Clock

Ulti Clocks content

Pengunjung

408275
TodayToday18
YesterdayYesterday35
This WeekThis Week18
This MonthThis Month1082
All DaysAll Days408275

Mesin Pencari

Sejarah PDF Print E-mail
Written by Administrator   
Saturday, 22 August 2009 07:36

SEJARAH MENGENAL MASJID AL IKHLAS.

Masjid Al Ikhlas,  terletak di Jl. Benda Barat 15, Komplek Pamulang Permai II, RT. 008. RW.010, Kel. Pd. Benda, Kec. Pamulang, Kota Tangerang Selatan. Masjid ini  sudah berdiri sejak tahun 1992, didirikan oleh Warga secara gotong  royong diatas lahan Fasos/Fasum seluas kurang lebih 200 m2 dan sudah mendapatkan izin dari kelurahan Pd. Benda secara tertulis atas permintaan warga.

Pada awal berdirinya Masjid ini adalah Mushalla yang sederhana,  disamping untuk tempat beribadah mushalla ini juga dipakai untuk tempat  mengaji anak-anak dan Majlis Ta’lim Ibu-ibu serta  Bapak-Bapak. Sejak tahun 1998, atas dasar kebutuhan yang mendesak akan perlunya tempat untuk shalat jum’at dan pusat kegiata ‘ibadah-‘ibadah yang lain bagi Masyarakat Muslim sekitar, maka Mushalla ini oleh warga dan tokoh Masyarakat sekitar dijadikan Masjid dan dipakai oleh kaum Muslimin  untuk Shalat Jum’at.

DKM Al Ikhlas Terbentuk Sejak Tahun 2000.

Untuk mengurus dan mengelola Masjid Al Ikhlas maka Kaum Muslimin dan Jamaah dilingkungan Masjid Al Ikhlas (RT. 007, 008, 009. RW. 010), sejak tahun 2000 membentuk pengurus Masjid Al Ikhlas dengan nama Dewan Kemakmuran Masjid (DKM) Al Ikhlas, dengan masa bakti kepengurusan tiga tahun.

Untuk menentukan ketua DKM Al Ikhlas Jamaah membentuk satu kepanitiaan pemilihan ketua DKM Al Ikhlas, panitia inilah  yang bertugas membuat aturan-atura dan melakukan tahapan-tahapan pemilihan, Pemilihan bakal calon ketua DKM sampai pemilihan ketua DKM   dipilih langsung  oleh Masyarakat dan Jamaah, dengan demikian maka; Ketua DKM Al Ikhlas adalah orang yang di pilih langsung oleh Masyarakat dan Jamaah dilingkungan Masjid Al Ikhlas secara demokratis, bebas dan rahasia.

Lembaga-lembaga di bawah naungan DKM Al Ikhlas.

Masjid Al Ikhlas di tengah-tengah Masyarakat dan Jamaahnya mempunyai peran yang sangat penting dan strategis dalam pembinaan ummat, ini terbukti dengan berdirinya lembaga-lembaga pelayanan ummat yang sudah berjalan dan berfungsi cukup baik. Lembaga-lembaga tersebut antara lain :

1.    Taman Kanak-kanak Al Qur’an/Taman Pendidikan Al Qur’an (TKA/TPA) Al Ikhlas.

Lembaga ini di pimpin oleh seorang kepala TKA/TPA, seorang Secretaris dan seorang Bendahara. TKA/TPA Al Ikhlas mempunyai empat orang guru yang aktif, dengan total santri berjumlah sekitar seratus santri aktif.

Untuk memajukan TKA/TPA Al Ikhlas, maka pada tahun 2001, jamaah Masjid Al Ikhlas mendirikan sebuah Yayasan yang bernama Yayasa Pamulang Al Makmur yang masih ada sampai sekarang, Yayasan ini membantu segala macam persyaratan administrative, yang berkaitan dengan legalisasi dan perizinan penyelenggaraan TKA/TPA Al Ikhlas.

Alhamdulillah sejak mendapatkan izin kemudian bermitra juga dengan Yayasan Cahaya Wakaf Madani dan BKPRMI, yang mengelola TKA/TPA se-JABODETABEK, pada tahun 2001, TKA/TPA Al Ikhlas mengalami kemajuan yang pesat dalam hal kuwalitas dan mutu pengajaran dan pendidikan yang di selenggarakan, ini terbukti dengan prestasi-prestasi yang baik yang di tunjukkan oleh para santri dalam setiap perlombaan yang di adakan, baik di tingkat kecamatan maupun di tingkat Kota Tangsel.

2.    Majlis Ta’lim Al Ikhlas (Bapak-bapak) dan Majlis Ta’lim Khoirunnisa (Ibu-ibu).

Majlis ta’lim Al Ikhlas (Bapak-bapak) mempunyai kegiatan-kegiatan, yaitu pengajian rutin setiap malam jum’at dari rumah ke rumah, kajian tafsir Al Qur’an setiap malam minggu pertama setiap bulan di Masjid, kajian ilmu Fiqih setiap malam minggu kedua setiap bulan di Masjid, kajian ilmu tasawuf, setiap malam minggu ke tiga setiap bulan di Masjid, belajar membaca Al Qur’an dan Ilmu Tajwid untuk Bapak-bapak setiap malam minggu ke empat setiap bulan di Masjid, dan kuliah subuh setiap hari minggu pagi di Masjid Al Ikhlas.

Majlis ta’lim Khoirunnisa (Ibu-ibu) juga mempunyai kegiatan-kegiatan yang rutin, yaitu tadarrus Alqur’an dan kajian fiqih ibadah setiap satu minggu sekali,  pengajian umum setiap satu bulan sekali di Masjid Al Ikhlas dan mengadakan peringatan hari-hari besar islam bersama Majlis Ta’lim Al Ikhlas.(Bapak-bapak).

3.    Remaja Masjid (REMAS) Al Ikhlas..

Remaja Masjid Al Ikhlas mempunyai anggota sekitar empat puluh (40) orang anggota Remaja Putra dan Putri, dengan kegiatan rutin yaitu pengajian Remaja dan kegiatan-kegiatan keremajaan serta penyelenggara PHBI bersama Majlis Ta’lim Al Ikhlas (Bapak-bapak) dan Majlis Ta’lim Khoirunnisa (Ibiu-ibu)

4.    Lembaga Santunan Duka Cita (SDC).

Lembaga Santunan Duka Cita (SDC) adalah lembaga yang di dirikan  untuk mengurusi masalah kematian dan menyantuni keluarga anggota SDC yang terkena musibah kematian. SDC telah memiliki anggota kurang lebih 900 jiwa, yang terdiri dari sekitar 200 kepala keluarga. SDC telah memilik segala perlengkapan yang di butuhkan dari mulai tenda, kursi sampai peralatan yang di butuhkan untuk keperluan pengurusan jenazah.

Untuk program  selanjutnya SDC akan menyelenggarakan secara berkala pelatihan pengurusa jenazah secara cuma-cuma bagi kaum muslimin dan muslimat, agar mereka memahami pentingnya pengurusan jenazah bagi kaum Muslimin secara baik dan benar, karena mengurus jenazah itu wajib (Fardlu Kifayah) hukumnya bagi orang Islam, maka wajib pula setiap muslim untuk mempelajarinya.

5.    Badan Amil Zakat (BAZ)

Badan Amil Zakat di dirikan dalam rangka untuk melayani kebutuhan Ummat (Kaum Muslimin) yang ingin menunaikan zakat, mulai dari cara penghitungan zakat, Haul dan Nishabnya sampai pendistribusian zakat kepada Mustahik.

BAZ ini di harapkan merupakan embrio dari cikal bakal berdirinya suatu lembaga yang lebih luas misinya,yaitu Baitul Mal Wattamwil (BMT) yang nantinya akan bersinergi dengan lembaga-lembaga keuangan Syariah baik dari dalam negri maupun dari luar negri, sehingga kedepan lembaga ini diharapkan bisa lebih memberikan manfaat kepada Masyarakat dan kaum Muslimin.

Struktur Pengurus DKM Masjid Al Ikhlas.

Bagan struktur Oganisasi Masjid Al Ikhlas terlampir di Main Menu “Sususnan Organisasi” .

Program Pengembangan Dan Perluasan Masjid Al Ikhlas.

Masjid Al Ikhlas yang terletak di perbatasan pamulang dua Kec. Pamulang dan Kp. Maruga Kec. Ciputat merupakan masjid kebanggaan masyarakat muslim daerah tersebut, walaupun masjid in ukurannyai kecil dan berdiri di atas lahan fasos/fasum, namun masjid ini di bangun dengan uang waqaf dan shadaqah dari Masyarakat Muslim sekitar.

Masjid Al Ikhlas letaknya sangat strategis, lokasinya tidak jauh dari kantor kecamatan Ciputat yang rencananya akan di jadikan sebagai kantor Wali Kota Tangerang Selatan, sehingga tidak heran banyak fihak, yang dengan tidak sabar, ingin agar Masjid ini di jadikan sebagai Masjid Kota Tangerang Selatan, hal inilah yang akhirnya menimbulkan banyak permasalahan yang terjadi antara DKM Masjid Al Ikhlas dengan fihak-fihak “yang punya kepentingan’.

Program pengembangan dan perluasan Masjid Al Ikhlas bukan semata-mata karena pertimbangan di atas, akan tetapi lebih dari itu bahwa Masjid ini memang sudah sangat mendesak untuk di bangun dan di kembangkan mengingat beberapa hal;

1.    Sudah tidak menampung lagi untuk shalat jum’at bagi para jamaah apalagi untuk shalat ‘idul fitri -‘idul ‘adha, sebab jamaah yang datang tidak hanya dari Masyarakat yang bermukim tetap di sekitar Masjid   tetapi banyak juga pedagang, pegawai, sopir angkutan umum dan Muslimin-Muslimat yang kebetulan lewat, karena Masjid ini terletak tidak jauh dari jalan raya.

2.    Sudah tiDak menampung lagi untuk kegiatan belajar mengajar bagi para santri TKA/TPA Al Ikhlas, sehingga seluruh ruangan Masjid, dari mulai serambi sampai ruang dalam Masjid penuh sesak oleh anak-anak santri yang belajar agama dan mengaji.

3.    Semakin berkembangnya jumlah kaum Muslimin yang bermukim tetap di sekitar Masjid dan belum adanya fasilitas-fasilitas pendukung yang memadai, seperti kantor secretariat untuk pengurus DKM dan secretariat untuk pengurus unit-unit lembaga di bawah DKM.

Hal hal tersebutlah yang mendasari rencana pengembangan dan perluasan Masjid Al Ikhlas demi efektifitas setiap kegiatan yang di selenggarakan di Masjid dan demi kenyamanan para Jamaah.

 

Sekilas Sejarah Kota Tangerang Selatan

Kota Tangerang Selatan adalah salah satu kota di Provinsi Banten, Indonesia. Kota ini diresmikan oleh Menteri Dalam Negeri Indonesia, Mardiyanto, pada 29 Oktober 2008. Wilayah ini merupakan pemekaran dari Kabupaten Tangerang. Rencana ini berawal dari keinginan warga di wilayah selatan untuk mensejahterakan masyarakat. Pada tahun 2000, beberapa tokoh dari kecamatan-kecamatan mulai menyebut-nyebut Cipasera sebagai wilayah otonom. Warga merasa kurang diperhatikan Pemerintah Kabupaten Tangerang sehingga banyak fasilitas terabaikan.

Pada 27 Desember 2006, Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Kabupaten Tangerang menyetujui terbentuknya Kota Tangerang Selatan. Calon kota otonom ini terdiri atas tujuh kecamatan, yakni, Ciputat, Ciputat Timur, Pamulang, Pondok Aren, Cisauk, dan Setu. Wilayah ini berpenduduk sekitar 966.037 jiwa.

Batas wilayah Kabupaten Tangerang dengan calon Kota Tangerang Selatan segera ditetapkan. Demikian pula dengan pusat pemerintahan kota yang baru terbentuk. Pengambilan keputusan mengenai kecamatan mana saja yang masuk Tangerang Selatan juga masih dibicarakan. Rapat di masing-masing fraksi yang diadakan sebelum rapat paripurna digelar sudah menunjukkan alternatif pertama (lima kecamatan) yang disetujui fraksi besar seperti Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan dan Partai Golkar.

Fraksi Partai Kebangkitan Bangsa memilih alternatif kedua, yakni enam kecamatan yakni Ciputat, Cisauk, Pondok Aren, Pamulang, Serpong, dan Pagedangan. Berdasarkan hasil voting, 21 anggota DPRD memilih alternatif pertama sedang 14 orang memilih alternatif kedua. Hasil rapat paripurna kemudian dibawa ke DPRD Propinsi Banten dan Menteri Dalam Negeri sebelum dibahas di DPR-RI serta ditetapkan dalam undang-undang.

Pada masa penjajahan Belanda, wilayah ini masuk ke dalam Karesidenan Batavia dan mempertahankan karakteristik tiga etnis, yaitu Suku Sunda, Suku Betawi, dan Suku Tionghoa.

Pada 22 Januari 2007, Rapat Paripurna Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Kabupaten Tangerang menetapkan Kecamatan Ciputat sebagai pusat pemerintahan Tangerang Selatan. Dalam rapat yang dipimpin Ketua DPRD Endang Sujana, Ciputat dipilih secara aklamasi.

Sebelumnya, beberapa pihak, termasuk Bupati Tangerang Ismet Iskandar menyebut dua kecamatan yakni Ciputat dan Serpong sebagai calon pusat pemerintahan Tangerang Selatan. Pelaksana Tugas Ketua Panitia Khusus Kajian Rencana Pemekaran Wilayah R Dahyat Tunggara menyatakan bahwa daerah Ciputat memiliki nilai strategis dan memenuhi syarat menjadi ibukota. Presidium Pembentukan Tangerang Selatan dan pemerintah induk Kabupaten Tangerang sudah sepakat dengan keputusan ini.

Lokasi persis ibukota itu adalah Kelurahan Maruga yang merupakan bekas Kantor Kawedanan Ciputat dan dipakai sebagai kantor Kecataman Ciputat. Pada rapat paripurna lanjutan, seluruh fraksi DPRD juga menyetujui pemekaran tiga kecamatan baru di wilayah Tangerang bagian selatan. Kecamatan baru itu adalah Kecamatan Ciputat Timur (pemekaran dari Kecamatan Ciputat), Kecamatan Setu (pemekaran dari Kecamatan Cisauk), dan Kecamatan Serpong Utara (pemekaran dari Kecamatan Serpong). Sedang Kecamatan Pondok Aren dan Kecamatan Pamulang tidak ada pemekaran wilayah. Dengan demikian, jumlah kecamatan di Kota Tangerang Selatan bertambah dari lima menjadi delapan kecamatan.

Peraturan Pemerintah Nomor 129 Tahun 2000 yang membahas soal pemekaran daerah menyebutkan keputusan akhir rencana itu ada di DPR-RI. Usul disampaikan melalui Gubernur kepada Menteri Dalam Negeri, kemudian dikaji oleh Dewan Pertimbangan Otonomi Daerah. Setelah disetujui, Mneteri Dalam Negeri mengajukan kepada Presiden. Kemudian, diajukan dalam bentuk rancangan undang-undang ke DPR-RI untuk diputuskan.

Jumlah penduduk di wilayah ini lebih dari satu juta jiwa. Pamulang dihuni 236.000 jiwa, sedang Ciputat dihuni 260.187 jiwa. Dari dua kecamatan ini, jumlah penduduk 500.000 jiwa. Jika ditambah dengan penduduk Serpong, Pondok Aren, dan Cisauk akan berjumlah lebih dari satu juta jiwa. Sehingga, memenuhi syarat untuk suatu daerah otonom.

Komisi I Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Banten mulai membahas berkas usulan pembentukan Kota Tangerang mulai 23 Maret 2007. Pembahasan dilakukan setelah berkas usulan dan persyaratan pembentukan kota diserahkan Gubernur Banten Ratu Atut Chosiyah ke Dewan pada 22 Maret 2007.

Pada 2007, Pemerintah Kabupaten Tangerang menyiapkan dana Rp 20 miliar untuk proses awal berdirinya Kota Tangerang Selatan. Dana itu dianggarkan untuk biaya operasional kota baru selama satu tahun pertama dan merupakan modal awal dari daerah induk untuk wilayah hasil pemekaran. Selanjutnya, Pemerintah Kabupetan Tangerang akan menyediakan dana bergulir sampai kota hasil pemekaran mandiri.

Pembagian administratif

Kota Tangerang Selatan terdiri atas 7 kecamatan, yang dibagi lagi atas sejumlah kelurahan. Sebelumnya Tangerang Selatan merupakan bagian dari wilayah Kabupaten Tangerang, kemudian ditetapkan sebagai kota pada tanggal 29 Oktober 2008.

Kota Tangerang Selatan terdiri atas:

Daerah-daerah otonomi yang diresmikan pada tanggal yang sama adalah:

  1. Kabupaten Mesuji, di Lampung.
  2. Kabupaten Tulang Bawang Barat, di Lampung.
  3. Kabupaten Pringsewu, di Lampung.
  4. Kota Gunung Sitoli, di Sumatera Utara.
  5. Kabupaten Nias Utara, di Sumatera Utara.
  6. Kabupaten Nias Barat, di Sumatera Utara.
  7. Kabupaten Tambrauw, di Papua Barat.
  8. Kabupaten Pulau Morotai, di Maluku Utara.
  9. Kabupaten Intan Jaya, di Papua.
  10. Kabupaten Deiyai, di Papua.
  11. Kabupaten Sabu Raijua, di Nusa Tenggara Timur.
  12. Kota Tangerang Selatan, di Banten.

Perubahan nama jalan

  • Jalan Pondok Betung Raya = Jalan Sultan Iskandar
  • Jalan Raya Jombang = Jalan H. Amir Machmud
  • Jalan Jelupang - Pondok Jagung = Jalan Letjen. S. Parman
  • Jalan Pondok Kacang - Parigi = Jl. Raya Tentara Pelajar
  • Jalan Ciater - Serua = Jalan Suharto
  • Jalan Pagedangan - Serpong = Jalan Pajajaran
  • Jalan Akses Tol Pondok Aren = Jalan HOS Cokrominato
  • Jalan Cirendeu Raya = Jalan H. M. S. Minaredja, S.H
  • Jalan Puspitek - Pamulang Dua = Jalan Veteran
  • Jalan Raya Serpong = Jalan Mahar Martanegara

Last Updated on Saturday, 15 March 2014 08:54